Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2011

Do'a dan Makanan


 Suatu hari, Sa'd ibn Abi Waqqash bersiaga menjagai Nabi SAW dengan sepenuh kewaspadaan, gigih menahan lelah, kantuk, & dingin malam. Sa'd, sang pemanah ulung yang dalam 100 bidikan tiada satupun meleset itu tadinya mendengar gumam Sang Nabi, "Adakah lelaki Shalih yang malam ini kan menjaga kami?" Bergegaslah dia sedia. Kisah tentang suara gemuruh di ujung Madinah, kegesitan Sa'd, & lebih trengginasnya Nabi yang mendahului memeriksa & justru menenangkan penjaganya, telah kita kenal. Lalu malam itu, Sa'd menyiapkan air wudhu RasuluLlah & keperluan shalatnya. Welas asih Sang Nabi memandangnya lalu bersabda, "Mintalah sesuatu padaku hai Sa'd aku akan memintakannya pada Allah untukmu." Maka Sa'd santun menjawab, "Mintakanlah pada Allah, ya RasulaLlah, agar #Doa ku mustajab!"
Nabi tersenyum mendengar pinta yang sungguh cerdas itu. Lalu beliau bersabda, "Bantulah aku hai Sa'd, dengan memperbaiki makananmu." Apa hubungan antara perbaikan makanan dengan mustajabnya #Doa? Sungguh agung sekali Islam, yang kesucian menjadi salah satu asasnya.
Satu hari, RasuluLlah baca di hadapan sahabat 2 ayat; yakni QS 23: 51 & QS 2: 168 yang memerintahkan para Rasul hingga semua insan memakan rizqi Allah yang halal & baik. Beliau SAW kemudian bercerita tentang seorang musafir di padang pasir, yang berpuasa yang bekalnya dicuri kawan, & tersesat dalam perjalanan; lalu dia mengangkat tangannya ke langit untuk ber #doa, "Ya Rabb! Ya Rabb!" "Tetapi bagaimana mungkin akan dikabulkan", ujar Nabi mengomentari, "Sementara yang dimakannya haram, yang dikenakannya pun haram." Orang yang disebut dalam kisah, memiliki 4 keutamaan yang menjamin #doa nya terkabul: 1)musafir 2)puasa 3)dizhalimi 4)mengangkat tangan. Tapi perkara haram yang melekati tubuh, telah menghalangi sampainya #doa itu ke sisi Allah SWT.
Sesungguhnya Allah itu Thayyib, Dia tidak menerima kecuali yang Thayyib (halal, suci, & baik). Tertolaknya #doa, boleh jadi sebab adanya hal haram yang tumbuh di tubuh. Dalam rangkaian ayat-ayat tentang puasa (QS 2: 183-187), kita menemukan ayat 186 yang bicara tentang #doa. Sebab puasa sebagai ibadah erat kaitannya dengan pembersihan lahiriah & penjagaan perut dari mengasup bukan cuma yang syubhat, apalagi haram, melainkan bahkan yang halal sejak terbit fajar hingga terbenam mentari. Maka puasa adalah taqwa; jika yang halal saja bisa kita hindari,hal-hal yang haram, menjadi garansi sampainya sinyal-sinyal #doa kita pada Allah nan di atas 'Arsy. Setelah itu terserah padaNya dalam bentuk apa Dia akan menjawab #doa-doa kita; boleh jadi sesuai yang kita minta, atau dihindarkan dari petaka, atau diberi yang jauh lebih baik darinya, atau ditunda sampai tiba saat terbaik menurutNya, atau disimpan sebagai kejutan karunia kelak di surga.
Saya ingat waktu pertama mengaji Fiqh Puasa; tertakjub hati membaca bahwa salah satu pembatal puasa adalah 'muntah DENGAN SENGAJA'. Saya bergumam-tanya, "Alangkah sia-sia & kurang kerjaan dia yang muntah dengan sengaja! Mana ada?" Menginjak SD, saya baru faham ada suatu masa, di mana orang begitu takut sebab mendengar sabda Nabi-Nya, "Daging yang tumbuh dari makanan haram, tiada yang pantas baginya kecuali api neraka!" Maka di zaman itu, memeriksa kembali apa yang terlanjur ditelan, lalu memuntahkannya jika terbukti -atau terragukan- mengandung keharaman dalam zat maupun cara perolehan; adalah perbuatan yang umum & wajar dilakukan. Lihatlah misalnya Ash Shiddiq Abu Bakr yang suatu hari pulang, saat sang isteri menyediakan roti beserta kuah daging di meja makan. Lapar & percaya telah melailaikannya dari bertanya asal-usul hidangan di meja sebagaimana kebiasaannya. Maka dinikmatinya segera. Sang isteri menegur & mengatakan bahwa yang bawakan hidangan itu adalah tetangga. Telisik pada pembantu menjadikannya tahu bahwa seorang tukang ramal-lah asal mula hadiah itu. Sigap dia susupkan 3 jari ke pangkal lidah, & dimuntahkanlah semua yang termampu. ngapa generasi lalu begitu gigih muntah dengan sengaja untuk bersihkan perutnya? Pada yang terlanjur & kita tak tahu, bukankah Allah Maha Pengampun? Ya, kata Asy Syafi'i, memang diampuni. Tapi pengaruh unsur haram pada tubuh tak serta merta ikut luruh. Ia masih tetap menghalangi pancaran doa. Bahkan anggota tubuh yang tumbuh dari barang haram, mudah berresonansi dengan frekuensi kemaksiatan. Mata yang disuplai gizi nan haram, tertagih menikmati pandangan haram. Juga telinga, suka mendengarkan ketakbaikan. Lidah yang tumbuh dari rizqi terdosa, lebih ringan memfitnah, mencela, bergunjing, & berdusta. Tangan jadi lebih tega menzhalimi. Dan kakipun jadi sulit dikendalikan dari langkahnya ke tempat kemaksiatan. Semoga Allah jaga kita semua dari segala yang demikian. Shalih(in+at), mari bermesra padaNya dengan #doa. Dan untuk hantarkan ia berjawab di sisiNya, yuk jaga halal & thayyibnya makanan kita :)

sumber : Kulwit Ustd. Salim Afillah

Minggu, 15 Mei 2011

"Fitrah Yang Salah"


oleh Nuruddin Al-Indunissy pada 15 Mei 2011 jam 20:40

"Fitrah adalah 'Ketetapan' Allah yang ditentukan kepada setiap umat manusia sejak awal penciptaannya yang berupa sifat atau 'kecendrungan alami' terhadap sesuatu yang akan muncul dengan sendirinya secara batinniyah tanpa pengaruh dari luar".

Seorang suami yang tidak bahagia bisa saja 'menyayangi' wanita lain dan dengan mudahnya mengatakan "Mencintai adalah Fitrah!" begitu juga istri yang tidak bahagia lalu MENCINTAI laki laki lain dibelakang suami lalu terlibat perselingkuhan dalam diam dan masih mengatakan "Ini adalah bagian dari fitrah...."

Hingga kemudian para remaja kota meyakini kisah Cinta mereka, yang kemudian bersatu dalam ikatan indah "Pacaran" itu mendefinisikan dan menjadi bagian dari Fitrah manusia yang telah ditanamkan Allah dalam penciptaan manusia?. 

Kata fitrah ini sering dijadikan pembelaan atau pembenaran saat hati seseorang terjebak sebuah perasaan, lalu dengan serta merta menghalalkannya dan mengatakan "Ini adalah Fitrah!"

Bismillahirahmanirahim.
Mari kita bahas secara terperinci.
Saya mulai dengan definisi fitrah menurut pengetahuan saya, 

Fitrah adalah 'Ketetapan' Allah yang ditentukan kepada setiap umat manusia sejak awal penciptaannya yang berupa sifat atau 'kecendrungan alami' terhadap sesuatu yang akan muncul dengan sendirinya secara batinniyah tanpa pengaruh dari luar.

Sahabat pena.
Dalam bahasa ingris, fitrah disebut a natural tendency atau sebuah kecendrungan alami. 

Dalam ilmu sosiologi, para sosiolog barat telah mendefinisikan fitrah/naluri manusia itu kepada berbagai kategori dan dewasa ini mereka terus menemukan fitrah fitrah manusia lainya hingga mereka menyimpulkan bahwa fitrah manusia itu terus tercipta dan tidak terbatas? 

Tentu saja ini adalah pemikiran serius yang salah.
Karena fitrah itu telah diciptakan Allah pada setiap jiwa dan itu tidak mengalami sebuah perubahan. 

Allah Subhana Huwwa Taala berfirman:

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui", (Qs Ar Rum 30)

Saya tertarik mengutif kembali sebuah buku yang ditulis oleh Taqiyuddin an-Nabhani yang berjudul Hakikat Berfikir. Mohon dibaca dengan teliti;

Taqiyuddin an-Nabhani mendefinisikan fitrah sebagai daya kehidupan yang mendasar.
Daya kehidupan yang mendasar - atau naluri manusia - merupakan bagian integral dari hakikat manusia yang tidak mungkin diubah (dimodifikasi), dihapus, dan dibendung. Naluri-naluri tersebut mesti ada dengan berbagai penampakannya (mazhahir, manifestations).

Realitas naluri ini berbeda dengan penampakan dari naluri itu sendiri.
Penampakan naluri bukan bagian integral dari hakikat manusia sehingga bisa diubah, dihapus, dan dibendung. Sebagai contoh, di antara penampakan naluri mempertahankan diri (gharîzah albaqâ’, survival instinct) adalah sikap mementingkan diri sendiri dan sikap mementingkan orang lain. Adalah mungkin mengubah sikap mementingkan diri sendiri menjadi sikap mementingkan orang lain. Kita pun bahkan bisa menghapus dan membendung kedua penampakan tersebut.

Contoh lain adalah kecenderungan terhadap seorang wanita disertai syahwat dan kecenderungan untuk menyayangi ibu. Keduanya merupakan penampakan dari naluri melestarikan keturunan (gharîzah an-nau‘, species instinct). Naluri manusia untuk melestarikan keturunan tidak mungkin diubah, dihapus, dan dibendung. Yang mungkin adalah mengubah, menghapus dan membendung berbagai penampakannya.

Misalkan, di antara penampakan naluri ini adalah kecenderungan kepada wanita dengan syahwat. Begitu juga kecenderungan untuk menyayangi ibu, saudara perempuan, dan anak perempuan. Adalah mungkin mengubah kecenderungan kepada wanita yang disertai syahwat dengan kecenderungan menyayangi ibu.

Artinya, rasa sayang kepada ibu akan bisa menggantikan kecenderungan kepada wanita yang disertai syahwat, sebagaimana dimungkinkan mengganti sikap mementingkan diri sendiri dengan sikap mementingkan orang lain. Sering terjadi, rasa sayang terhadap ibu mengalihkan seseorang dari kecenderungan terhadap istrinya, bahkan dari pernikahan dan hasrat seksualnya.

Sebaliknya, sering pula terjadi, hasrat seksual kepada isteri memalingkan seorang laki-laki dari rasa sayang kepada ibunya. Jadi, penampakan mana saja dari naluri melestarikan keturunan akan bisa menggantikan penampakan yang lain. Demikian juga satu penampakan bisa diubah menjadi penampakan yang lain.

Walhasil, penampakan dari suatu naluri bisa diubah, bahkan bisa dibendung dan dihapus. Ini dikarenakan naluri merupakan bagian integral dari hakikat manusia, sedangkan penampakan dari naluri itu bukan bagian integral dari hakikat
manusia.

Dari penjelasan di atas maka terbukti bahwa para ahli psikologi telah melakukan kesalahan dalam memahami naluri manusia. Mereka awalnya membatasi naluri-naluri tersebut, tetapi kemudian tidak lagi membatasinya.

Sebenarnya,
Naluri (gharâ’iz) yang ada dalam manusia hanya terdiri dari tiga jenis naluri saja, yaitu :
(1) naluri mempertahankan diri (gharîzah al-baqâ’);
(2) naluri melestarikan jenis (gharîzah an-nau‘);
(3) naluri beragama (gharîzah at-tadayyun) atau pensakralan (at-taqdis).

Manusia senantiasa berusaha untuk mempertahankan eksistensi dirinya.
Oleh karena itu, manusia mempunyai keinginan untuk memiliki sesuatu, memiliki rasa takut, terdorong untuk melakukan sesuatu, mempunyai hasrat untuk berkelompok, dan sejumlah perbuatan lainnya dalam rangka mempertahankan
eksistensi dirinya. Dengan demikian, rasa takut, kecenderungan untuk memiliki sesuatu, keberanian, dan yang sejenisnya bukanlah naluri itu sendiri, melainkan hanya penampakan-penampakan dari satu naluri, yaitu naluri untuk
mempertahankan diri (gharizah al-baqa`).

Demikian pula kecenderungan terhadap wanita karena syahwat atau rasa sayang, kecenderungan untuk menyelamatkan orang yang tenggelam, kecenderungan untuk menolong orang yang sangat membutuhkan, dan yang lainnya. Semua itu bukanlah naluri itu sendiri, melainkan hanya penampakan penampakan dari satu naluri, yaitu naluri untuk melestarikan jenis. Naluri ini bukanlah naluri seksual (gharîzah al-jinsi) sebab hubungan seks kadang-kadang bisa terjadi antara manusia dan hewan. Hanya saja, kecenderungan yang alami adalah dari manusia kepada manusia lain atau dari hewan terhadap hewan lain.

Sebaliknya,
Kecenderungan seksual manusia terhadap hewan, misalnya, adalah suatu penyimpangan (abnormal), bukan sesuatu yang alami. Kecenderungan semacam ini tidak mungkin terjadi secara alami, melainkan terjadi karena penyimpangan. Naluri merupakan kecenderungan yang bersifat alami. Begitu juga kecenderungan laki-laki kepada sesama laki-laki, adalah suatu penyimpangan, bukan sesuatu yang alami. Kecenderungan semacam ini juga tidak mungkin terjadi secara alami, melainkan terjadi karena penyimpangan. Dengan demikian, kecenderungan seksual kepada wanita, kecenderungan untuk menyayangi ibu, dan kecenderungan untuk menyayangi anak perempuan, semuanya termasuk penampakan dari naluri untuk melestarikan jenis.

Sebaliknya, kecenderungan seksual dari manusia terhadap hewan atau dari laki-laki kepada sesama laki-laki bukan merupakan kecenderungan yang alami, melainkan merupakan penyimpangan dari naluri. Walhasil, naluri yang sebenarnya adalah naluri untuk melestarikan jenis (gharîzah an-nau‘), bukan naluri seksual (gharîzah al-jinsi). Tujuannya adalah demi kelestarian jenis manusia, bukan demi kelestarian jenis hewan.

Demikian pula kecenderungan untuk beribadah kepada Allah, untuk mengagungkan para pahlawan, dan untuk menghormati orang-orang kuat. Semua itu merupakan penampakan dari satu naluri, yaitu naluri beragama (gharîzah attadayyun) atau pensakralan (at-taqdîs).

Semua naluri di atas ada pada manusia karena pada diri manusia terdapat perasaan alamiah ingin mempertahankan eksistensi dirinya dan ingin agar keberadaannya senantiasa kekal. Ketika manusia menghadapi segala sesuatu yang mengancam kelestariannya, pada dirinya akan segera muncul perasaan yang sesuai dengan jenis ancaman tersebut, seperti : perasaan takut, ingin melaksanakan sesuatu aktivitas, sikap kikir, atau ingin memberikan sesuatu, perasaan ingin menyendiri atau ingin berkelompok, dan sebagainya sesuai dengan pandangannya. Oleh karena itu, pada dirinya akan terwujud perasaan yang akan mendorongnya untuk melakukan suatu perilaku, sehingga akan terlihat padanya penampakan-penampakan berupa perilaku yang muncul dari perasaan ingin mempertahankan diri.

Pada diri manusia juga terdapat perasaan untuk mempertahankan jenis manusia, karena punahnya manusia akan mengancam kelestariannya. Artinya, setiap ada sesuatu yang mengancam kelestarian jenisnya, akan timbullah perasaan dalam dirinya secara alami sesuai dengan ancaman tersebut. Melihat wanita cantik akan membangkitkan syahwat pada diri seorang laki-laki. Melihat ibu akan membangkitkan perasaan sayang terhadapnya.

Melihat anak-anak akan membangkitkan perasaan kasih sayang.
Semua itu akan menimbulkan adanya perasaan yang mendorongnya untuk melakukan suatu perilaku sehingga akan tampak padanya penampakan berupa perilaku yang kadang-kadang tepat dan kadang-kadang tidak tepat. Begitu juga kelemahannya dalam memuaskan perasaan ingin mempertahankan diri dan jenisnya. Keadaan seperti ini akan membangkitkan perasaan-perasaan yang lain, yaitu berserah diri dan tunduk kepada sesuatu yang menurut perasaannya berhak ditaati dan diikuti perintahnya. Oleh karena itu, ada manusia yang berserah diri hanya kepada Allah, ada yang memuji pemimpin bangsanya, dan ada pula yang mengagungkan orang orang kuat. Semua itu muncul dari perasaan akan kelemahan yang alami pada dirinya.

Dengan demikian, asal-usul berbagai naluri adalah perasaan untuk mempertahankan diri, mempertahankan jenisnya, serta perasaan akan kelemahan yang alami. Dari perasaan-perasaan semacam ini, lahirlah berbagai perilaku yang merupakan penampakan dari ketiga naluri yang alami itu. Seluruh penampakan darinya dapat dikembalikan pada ketiga naluri tersebut. Walhasil, naluri manusia hanya terdiri dari ketiga jenis naluri ini, tidak ada selain itu.

Hanya ada 3 jenis Fitrah, 
Yaitu perasaan yang muncul secara Alami untuk mempertahankan diri, melestarikan keturunan dan kecendrungan untuk beribadah kepada Allah. Kemudian perasaan perasaaan lain yang muncul kemudian adalah berupa pengaruh dari ketiga fitrah itu yang dipengaruhi lingkungan dan keyakinan dalam aktifitas berfikir seseorang.

Jika mengatakan selingkuh itu fitrah,
tentu saja itu penyimpangan, Taqiyyudin mengatakan Abnormal. seperti halnya aktifitas seksual laki laki dengan laki atau wanita yang menyukai wanita.

Sekali lagi saya katakan, para kaum banci, gays dan lesbian adalah ABNORMAL.

Dalam kesimpulan catatan ini,
saya ingin menekankan sekali lagi. Bahwasannya cinta atau perasaan suka, sayang dan sebagainya adalah sebuah cabang atau penampakan dari fitrah yang ditanamkan Allah sebagai kecendrungan manusia untuk melestarikan keturunan yang kemudian pada praktiknya terjadi penyimpangan. 

Bukan fitrah itu sendiri.
Hanya penampakan dari Fitrah, yang cendrung bisa kita kendalikan, dibendung atau kita hapus.
Sementara fitrah manusia untuk melestarikan diri, mempertahankan jenis dan naluri hati untuk mengenal Allah adalah Fitrah yang tidak bisa diubah, dihapus atau ditahan.   

Adalah benar bahwasannya dalam setiap ruh itu ada cahaya Nur Illahi, hanya kecendrungan dan prilaku manusia yang kemudian melenyapkan atau memupuknya hingga Iman itu timbul.

Dan Islam telah menuntunnya dengan sempurna.
Dan Allah yang Maha Berkehendak telah memberinya Hidayah atau Menutup hatinya.
Wallahu'alam

Hukum Hukum yang Allah subhanahuwwata'la gariskan tidak selayaknya di sambungkan dengan logika, tapi aktifitas pemikiran kita yang harus diselaraskan dengan informasi dari Al Qur'an dan diterangkan dengan Al Hadits.  

Demikian, 
Sebenarnya Artikel ini adalah jawaban dari saudari Anty Kudus di inbox yang menanyakan "Apakah boleh laki laki yang sudah beristri mencintai Gadis lain, sedangkan Islam membolehkan Polygami? Bukankan sebelum polygami itu terjadi ada Cinta - dan cinta itu sendiri muncul atas fase fase... "

Semoga Artikel ini menjawab hingga tuntas dilihat dari sudut pandang tentang dari mana "Cinta itu Muncul" dan penyimpangnan penyimpangannya,

Wassalamualaikum warohmatullahi wbarokatuh. 

Nuruddin Al Indunissy 
Riyadh 2011

Disimak catatan lainya di
Official Page Catatan NAI:
 insha Allah setiap catatan yang di release akan di update ke inbox member yang telah bergabung

Jumat, 22 April 2011

Langkah-langkah Syaithan


Langkah syaitan secara garis besar ada 2, yakni : 
1. Tadhlil (penyesatan) 
2. Labsul Haq bil bathil (mencampuradukkan kebenaran & kebathilan).



TADHLIL (penyesatan) memang telah tersumpah dihadapan Allah  ketika iblis dilaknat. Tadhlil banyak jenisnya, diantaranya :
WAS-WAS. Maknanya membisikkan hal-hal mengkhawatirkan jika seorang hamba mentaat. Contoh : Was-was Adam & Hawa, "Allah tidak mencegahmu dari pohon, melainkan agar kalian tak jadi malaikat atau abadi." Was-was intinya "taat susah, maksiat untung".
NISYAN (LUPA). Kita dibuat lupa untuk mengerjakan kewajiban. Melupakan kebaikan, membalas jasa. Target : berbuat baik kepada sesama manusia menurun.
TAMANNI. Artinya menanam angan-angan. Dilakukan agar kita sibuk dalam bayang-bayang, tak beramal di kenyataan. Contoh. Pemuda lebih dikuasai bayangan indahnya hubungan, bukan sibuk persiapkan kemampuan menikah.
TAZYIN. Artinya menghias-hias. Yang busuk dihias jadi wangi, yang hina tampak mulia, yang nista terlihat cantik. Meliputi medan fikir, kata & amal. Contoh. Zina bukan kejahatan asal suka sama suka. Riba disebut bunga.
WA'D. Artinya membuat janji palsu. Contoh. Sebuah kisah israiliyat tentang 2 kakak lelaki & adik perempuan. Kedua kakak akan pergi berdagang, sang adik dititipkan pada seorang ahli ibadah ('abid). Mulanya sang 'abid menolak. Lalu syaithan membisikkan : "masa' ahli ibadah nan penuh kasih sepertimu tak mau menolong. Tega sekali engkau". Karena dibisiki terus oleh syaithan akhirnya sang abid setuju dengan syarat si gadis harus tinggal dipuncak menara, dan abid  hanya 2x sehari mengantar makanan. Setelah beberapa hari berjalan, syaithan membisiki lagi, "ga khawatir lu bid, jangan-jangan gadis itu sakit, ini amanah loh!. 
Khawatir, abid mengetuk pintu, "anda baik-baik sajakan?".  Syaithan membisiki lagi, "yah sapaan macam apa itu? tidak sopan!. Syaithan "ayolah bid, namanya juga wanita, bukan cuma makan, dia juga butuh perhatian. Jadilah lelaki yang memahami". Bisik demi bisik manis dari syaithan makin menjeruskan si abid. Singkat cerita, si abid & gadis itu terjerumus untuk berzina. syaithan terkekeh, "gak nyangka gw bid, tampang alim kayak lu ternyata bejat juga lu!. Hayeuh gimana sekarang? Panik! Panik!. Bisik syaithan, "Tuh dengerin dia muntah-muntah, dia hamil bid! Kalo gw jadi elu, bunuh aja, ga ada yang tahu. Kakaknya pasti percaya sama lu deh bid. Udah bunuh aja, bilang sama kakaknya dia mati karena sakit. Beres!". Dan dilakukanlah bujukan syaithan tsb. Hingga datanglah kedua kakak. Kedua kakak sedih, tapi percaya & pulang. Syaithan datang dalam mimpi dan memberitahukan mereka kejahatan si abid. Terbongkarlah kejahatan si abid. Abid di arak dan dirajam keliling kampung. Diikat, disalib lalu siap dibakar. Saat api menyala, syaithan berbisik lagi. "Nggak ada yang bisa menolong kamu kecuali aku. Ayo, minta tolonglah padaku, mohon padaku". Ketika si abid kufuri Allah & memohon tolong pada syaithan, si syaithan bilang, "goodbye, sampai jumpa di neraka!". Kata syaithan, "aku saja takut pada Allah, kok kamu berani banget sih kufur pada-Nya? Demi Allah, janjiku palsu".
KAID. Artinya tipu daya. Contoh sama dengan kisah 'abid di atas.
TASWIF. Artinya menunda. "Nanti saja!". Nanti saja sedekahnya kalau sudah kaya, nanti saja ibadahnya kalau sdh tua.
TAKHWIF: menakut-nakuti. Jgn aktif di Rohis nanti jd teroris. Jgn rajin ke masjid nanti ditangkap. Jgn berjilbab nanti susah jodoh & susah kerja. Jgn memperbaiki nanti dijebak anak buah & kena korupsi.


LABSUL HAQ BIL BATHIL: jika kejahatan tak lagi memikat, yg lebih menghanyutkan adalah mencampurnya dgn unsur2 kebenaran.
Rabbii A’udzu biKa min hamazaatisy Syayaathiin. Wa A’udzu biKa Rabbii an Yahdhuruun

Sumber : Kluwit Salim a Fillah

Jumat, 01 April 2011

1001 kelereng

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.

Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.

Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.


“Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat”.

Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.

Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya.” Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting”.

“Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini”, sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.

“Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya”.

“Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu”.

“Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku berfikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi”.

“Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!”

Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar ! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.

“Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan”. “Lho, ada apa ini…?”, tanyanya tersenyum. “Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial”, jawabku, “Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.”

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Senin, 31 Januari 2011

Sungguh kamu belum shalat

 Dari Abu Hurairah RA bahwa ada seseorang yang masuk masjid, sementara itu Rasulullah SAW sedang duduk disalah satu bagian masjid. Kemudian orang itu melakukan shalat, lalu ia mendatanghi Rasulullah SAW dan mengucapkan salah kepada beliau. Kemudian Rasulullah berkata :
“wa’alaikassalamu, kembalilah kamu dan shalatlah lagi, sesungguhnya kamu belum melakukan shalat”
Maka orang tersebut kembali melakukan shalat. Lalu ia mendatangi Rasullah SAW dan mangucapkan salam kepada beliau. Dan Rasulullah SAW kembali berkata padanya ;
“wa’alaikassalamu, kembalilah kamu dan shalatlah lagi, sesungguhnya kamu belum melakukan shalat”
Maka orang tersebut mengulangi shalatnya. Lalu ia kembali mendatangi Rasulullah SAW dan mengucapkan salam pada beliau. Dan Rasulullah SAW berkata untuk kesekian kalinya :
“wa’alaikassalamu, kembalilah kamu dan shalatlah lagi, sesungguhnya kamu belum melakukan shalat.
 Kemudian orang tersebut berkata, “ajarkanlah saya tentang shalat wahai rasulullah”. Maka Rasulullah SAW bersabda,
jika kamu shalat, maka sempurnakanlah wudhumu, kemudian menghadaplah ke kiblat dan ucapkanlah takbir (allahuakbar), kamudian bacalah sedikit ayat (yang mudah olehmu)dari Al-Qur’an,
 kemudian rukuklah hingga engkau benar-benar merasa tenang dalam rukuk. Kemudian bangunlah dari rukuk hingga enkau benar-benar tegak berdiri. Lalu sujudlaah hingga benar-benar tenang dalam sujud. Selanjutnya bangunlah dari sujud hingga engkau bemar-benar duduk dalam tenang. Dan lakukanlah hal seperti itu dalam semua shalatmu”.
(Dikutip dari buku Agar Shalat Terasa Nikmat)

Rabu, 12 Januari 2011

Kekuatan tanpa kekerasan

R
Dr. Arun Ghandi adalah cucu Mahatma Ghandi dan pendiri Lembaga M.K Ghandi untuk tanpa kekerasan. Pada tanggal 9 juni ia memberikan ceramah di Universitas Puerto Rico dan bercerita bagaimana memberikan contoh tanpa kekerasan yang dapat diterapkan di sebuah keluarga.
Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama dengan orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.
Suatu hari, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gemnira dengan kesempatan itu. Tahu bbahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.
Pgi itu, setiba di tempat konferensi ayah berkata, “ayah tunggu kau dsini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang kerumah bersama-sama.” Segera saja saya menyelesikan pekerjaan yang diberikan oleh ayah saya. Kemudian saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 05.30, langsng saya berlari menuju bengkel mobi;  dan terburu-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah pukul 06.00. dengan gelisah ayah menanyai saya. “kenapa kau terlambat?”
Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton film John Wayne sehingga saya menjawab, “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”
Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayah tahu kalau saya berbohong.
Lalu ayah berkata, “Ada yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kkebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang kerumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”
Lalu ayah dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang kerumah. Padahal hari sudah gelap. Sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan d belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayah karena kebohongan yang bodoh yang saya lakukan.

Sejak saat itu saja saya tidak pernah akan berbohong lagi. Serngkali saya berfikir mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelejaran mengenai tanpa kekerasan? Saya kira tidak...!!
Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadaian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah KEKUATAN TANPA KEKERASAN.”

Belajar Ikhlas

AKU INGIN BELAJAR IKHLAS
Bismillahirrahmanirrahim…..
Ada satu nasehat dari ibnu Athaillah dalam kitab al-hikamnya yang sampai saat ini masih terngiang dalam ingatanku, dan aku sangat ingin mempelajari makna yang terkandung didalamnya.
“Berbagai perbuatan manusia tak ubahnya sebuah patung yang kelihatan tegak, namun tak bisa bergerak. Keikhlasanlah yang membuatnya bernyawa”
Yup,, “ikhlas”, pastinya kata yang sangat sering ku dengar bahkan aku sangat sering mengucapkannya. Namun apa sih makna ikhlas?
Telah ku coba mencarinya, dan aku mendapatkan sedikit jawabannya dalam sebuah novel yang berjudul “Aku Menggugat Akhwat dan Ikhwan” karangan Fajar Agustanto. Hmm..akuu cukup mengerti dengan penjelasannya…
Dalam jilid ke 7 dalam novel “Aku Menggugat Akhwat dan Ikhwan” ….
…………….. Sejenak aku merebahkan diri. Mengentaskan semua asa yang tertanam dalam diri. Tubuhku terasa nyaman, berada dalam naungan kasur busa. Sesekali aku menghela nafas panjang. Menerawang dalam tatapan yang penuh dengan keletihan. Letih menjalani hari yang panjang. Hari yang melelahkan dalam satu hari penuh dengan perjuangan. Beberapa persoalan, datang silih berganti dalam hidup. Gejolak jiwa dalam aral yang membelenggu. Mengganggu tanpa permisi terlebih dahulu. Semuanya datang. Semuanya terasa keras dalam balutan masalah yang tak akan tuntas. Tetapi aku yakin. Tidak ada masalah yang tidak bisa dituntaskan. Karena Allah, telah memberikan cobaan dengan beserta kemudahannya. Aku yakin, semuanya bisa terselesaikan. Selesai tanpa harus membekas dalam diri dengan setumpuk masalah yang sama bertubi-tubi.

“Tluut…Tliit….” Suara sms Hp mengagetkanku.
Febrianti. Tertulis dalam layar LCD. “Mbak, anti dmn? Nggak ngechat! Tmn2 lg nungguin. Pngen tausyiah dari Mbak Farah. Cepat ya Mbak!” Pesan SMSnya.

Masya Allah, aku lupa. Hari ini kan ada liqo’ di teman-teman chatting!

Segera mungkin aku langsung menghidupkan komputer. Tak perlu beranjak dari tempat tidur. Karena dengan hanya menekan remote. Maka komputer dengan sendirinya langsung merestart. Segera aku mengambil jilbabku, untuk aku kenakan. Sejenak windows xp mengeluarkan wajah cantikku. “Afwan, sudahkah anda membaca basmalah? Kalau sudah, tolong diisi password untuk menuju tampilan XPnya. Syukron. Wassalam!” Bunyi tampilan otomatis dalam komputer.
Segera mungkin aku connect keinternet. Memasang camera dengan bagus. Dan langsung menuju ke chatcam. Tak lama aku sudah menuju keteman-teman cyber liqo’. Unik sebenarnya, saat kami bertemu dalam dunia cyber. Beberapa akhwat adalah adik kelasku, teman-temannya Dewi. Dan yang lainnya, adalah teman-teman cyber chatku. Karena kebanyakan mereka kuliah diluar negeri. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk selalu berhubungan dengan cara seperti ini. Beberapa teman-teman chattingku. Malahan dulu adalah seorang non muslim. Yang begitu tertarik dengan Islam. Hanya saja, mereka tidak dapat belajar tentang Islam lebih dalam. Karena mereka di wilayah negeri orang-orang kafir. Sehingga alternatifnya adalah, dengan chatting. Ada dua versi chatting yang dikembangkan dalam liqo’anku. Yaitu, chatcam dan chatvoice. Dua-duanya langsung terhubung dalam satu channel chatting. Sehingga dengan mudah, jika seorang yang tidak mempunyai camera. Tetap bisa mendengarkan suara para chatter.

“Assalamualaikum!” beruntun, suara-suara para chatter. Terlihat Febri, tetap dengan wajah imutnya dan jilbab besarnya. Lalu ada Ine dengan jilbab trendynya. Ada Ratna, Asih, Fenti, Maya, Desti, dan banyak lagi. Juga beberapa teman-teman chatvoice yang hanya menunjukkan inisial atau nama-namanya saja.
“Walaikumsalam.”
“Mbak Farah, kok telat ada apa?” Tanya Desti.

“Ana lagi kecapean! Satu hari yang melelahkan plus menegangkan serta menguras pikiran!”  ucapku senyum.

“Emang, lagi ada kegiatan yah Mbak?” Tanya Febri.

“Iyah, bisa dibilang begitu!” Ucapku. Kegiatan yang telah membuat jantung begitu keras dalam detakannya. Gumamku.
“Enak yah, Mbak! Kalau di Indonesia. Masih bisa melakukan dakwah sesukanya!” Ucap Febri dengan senyum simpulnya.

“Iya! Kalau kita disini nggak bisa seenaknya, melakukan kegiatan-kegiatan yang berbau religius ditempat umum! Bisa-bisa ditangkap karena mengganggu masyarakat!” Sahut Ratna. “Apalagi disini! Bisa-bisa langsung dikira teroris.” Sela Asih, sengit.

“Memang, banyak negera-negara yang katanya menjunjung hak asasi. Tetapi seorang yang melakukan hak asasinya malah dilarang. Banyak para akhwat Perancis yang telah keluar dari universitas terkenal. Hanya karena mereka berjilbab! Padahal, untuk masuknya sangat sulit.” Ucap Fenti.

“Woi, kasih hak bicara dong! Jangan hanya yang punya webcam aja, yang bicara!” sela Anggi yang berada di chatvoice. “Ih, siapa yang memotong hak bicara! Anti saja, yang tidak mau bicara.” Seru Ine. Yang membuat teman-teman akhirnya tertawa.

“Iya, kalau disini juga susah untuk kegiatan yang berbau religius! Di Ausy, malah ada salah satu akhwat yang diludahin saat mau berangkat kuliah.” Ucap Anggi semangat. “Siapa yang nanya!” sela Ine. “Yee….” Ucap Anggi, bersungut.

“Hehehe…. Sudah-sudah! Anti berdua ini kok kaya’ apaan.” Selaku. Mendamaikan.

“Biasa, Mbak! Anggi dan Ine itukan kucing dan tikus. Ngeong…… Citcit…..!” ledek Asih.

“Iya, ana kucingnya. Ukhti Ine tikusnya! Hehe…” ucap Anggi.

“Yee.. ana yang kucingnya. Anti tikusnya!” Seru Ine.

“Hehe… kok rebutan jadi binatang sih! Emang nggak enak yah jadi manusia?” ucapku bercanda.

“Iya, nih. Ukhti Asih ituloh yang mulai, Mbak!” Jawab Anggi.

“Iya, ini gara-gara Ukhti Asih!” Sahut Ine.

“Loh-loh… kok malah ana sih yang disalahin!” ucap Asih. Tidak terima.

Seluruh chatter pun tertawa. Sungguh keterikatan ukhuwah yang telah menjadikan kami bisa begitu dekat. Entah darimana asal mereka. Apa warna kulit mereka, bahasa apa yang mereka pakai. Selama dalam naungan Islam. Mereka adalah saudara. Hingga sampai-sampai, para room dichatting. Merasakan kenikmatan persaudaraan itu. Perkara kecil bisa dibesar-besarkan, tetapi tidak menjadi besar. Perkara besar tidak dibesar-besarkan malah kalau bisa dipermudah dan diperkecil. Karena ikatan ukhuwah kita yang kuat. Sampai-sampai bagaikan seorang adik kakak. Pertikaian kecil, merupakan bumbu-bumbu yang akan mempererat persaudaraan.

“Hehe…. Ya sudah! Gimana kita mulai sekarang?” selaku.

Sejenak mereka pun sedikit demi sedikit bisa mengatur dirinya. Suara riuh canda tawa mulai sedikit demi sedikit mereda. Mereka memulai memfokuskan dalam bermuhasabah pada setiap dirinya. “Tafadhol, Mbak!” Ucap Febri, mempersilahkan aku memberikan materi.

“Alhamdulillah. Insya Allah, untuk hari ini kita membahas materi akhlak dan ikhlas!” sejenak aku mengela nafas.
“Akhlak. Bisa dikatakan sebagai adab. Atau perilaku tentang budi pekerti. Dalam kamus bahasa. Beberapa orang mengatakan, bahwa akhlak adalah sebuah perilaku budi pekerti yang diambil dari sebuah kebudayaan. Tetapi, Akhlak dalam Islam. Bukan dari kebudayaan orang Arab. Tetapi, lebih dicenderungkan dalam kebudayaan manusia. Budi pekerti manusia yang universal. Dan akhlak dalam Islam, adalah karakter dominan Rasulullah! Yaitu, seorang yang ramah, adil, baik. Intinya, kesempurnaan manusia yang ada dunia. Hanyalah pada Rasulullah!”

Dalam layar monitor. Teman-temanku mendengar secara pasti taujih yang aku sampaikan. Rasa ketidaktahuan, atau rasa ingin memperkuat keimanan. Terlihat dari setiap wajah-wajah dalam monitor. Tidak terkecuali, teman-teman yang hanya bisa mendengar melalui chatvoice. Setiap hal, yang mendetail masalah akhlak dan ikhlas. Aku sampaikan dengan jelas. Aku ingin tidak ada yang tersisa lagi dalam setiap penyampaian materiku. Hingga menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Atau ilmu yang hanya setengah-setengah saja. Dengan pasti, aku memberikan materi-materi itu.

“Alhamdulillah. Baik, ada yang perlu ditanyakan” ucapku diakhir penjelasan.

Sejenak para chatter diam. Berfikir dan merasapi taujih yang aku sampaikan. Wajah mereka tertunduk, mengharap keikhlasan dengan perbuatan yang mereka lakukan. Perbuatan yang entah mereka lakukan. Aku tidak tahu.

“Mbak, ana mau tanya!” ucap Desti. Membuyarkan lamunan para chatter.

“Iya, tafadhol Ukh!” jawabku.

“Mbak, ana mau tanya tentang keIkhlasan. Apakah seorang yang melakukan sebuah pekerjaan. Tetapi dia melakukan itu dengan senang hati, tetapi karena menginginkan sesuatu selain Allah! Apakah itu juga dinamakan Ikhlas?”

“Seorang yang melakukan perbuatan, tetapi didasari untuk mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang bukan berdasarkan pada Allah. Juga termasuk Ikhlas! Tetapi, keikhlasan itu hanya pada sesuatu yang diinginkannya saja. Dan dia tidak mendapatkan pahala ikhlas yang diberikan oleh Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan, diriwayatkan oleh Ahmad. “Sebaik-baik usaha adalah usaha tangan seorang pekerja apabila ia mengerjakannya dengan tulus.” Jadi semua itu, mempunyai nilai keikhlasan sendiri-sendiri. Jika seseorang meniatkan dirinya untuk Allah, maka Allah lah yang akan menjadi tujuannya. Dan pahala yang akan didapatkannya. Sedangkan, jika seorang meniatkan untuk hal-hal yang lain. Selain Allah. Maka, hanya hal itu saja yang akan didapatkannya!” jelasku.

“Lalu, cara untuk ikhlas atau menjaga ikhlas dalam dakwah bagaimana Mbak? Kadang, ana sangat ikhlas sekali untuk mengadakan kegiatan. Tetapi, saat kegiatan itu tidak sesuai dengan harapan. Keihlasan ana menjadi pupus!” tanya Maya.

“Iya, kadang kita benar-benar sangat bersemangat dalam beradakwah. Dan kadang kala kita menjadi luntur atau futur. Saat-saat apa yang kita harapkan tidak tercapai. Atau kita bosan dengan kegiatan tersebut! Mungkin, kita perlu merefiu kembali jalan dakwah yang kita lakukan. Saat kita melakukan sebuah kegiatan. Dengan harapan, bahwa kegiatan itu akan mencapai target yang ingin kita capai. Tetapi sayang, beberapa teman-teman kita banyak yang tidak datang dalam kegiatan tersebut. Biasanya membuat kita menjadi pesimis dengan berlangsungnya kegiatan dengan bagus! Atau panitia kegiatan banyak yang datang terlambat. Itu juga, salah satu yang membuat keikhlasan menjadi luntur! Pernah ada seorang akhwat, melakukan kegiatan yang sudah sangat dirancang dengan matang. Lalu, pada saat pelaksanaan kegiatan. Banyak akhwat-akhwat panitia yang terlambat hadir atau bahkan tidak hadir. Akhwat ini bingung. Peserta sudah sangat membludak. Tetapi, panitia banyak yang tidak hadir. Akhirnya akhwat ini menelephon seorang akhwat yang belum hadir. Sebuah percakapan terjadi,

Akhwat A   : Ukhti, anti dimana? Peserta sudah banyak. Anti tolong kemari dong!
Akhwat B   : Afwan ana tidak bisa hadir. Ana ada keperluaan! Semoga anti dan teman-teman bisa mengatasi sendiri. (Ucapnya dengan enteng, tidak ada penyesalan sama sekali)
Akhwat A   : Anti kok nggak bilang saat syuro’. Kalau seperti ini kan kasihan Al Ukh yang lain. (Ucapnya, sedikit agak emosi)
Akhwat B   : Iya, Afwan. Ana hari ini ada teman yang lagi main kerumah. Jadi nggak bisa ninggal! Semoga anti tetap niat ikhlas anti tidak ternodai dengan nafsu amarah anti. (Ucapnya, tanpa ada perasaan yang bersalah)
Akhwat A   : Masya Allah, Ukh! Anti kan bisa ajak teman anti disini! (Ucapnya agak tegas, dengan nada yang meninggi. Sedikit terlihat emosi)
Akhwat B   : Afwan, nggak enak. Nanti ganggu anti dan temanteman. Lebih baik, anti dan teman-teman tetap istiqomah dijalan dakwah. Dan tetap, semoga niat anti nggak ternodai dengan nafsu amarah anti. (Ucapnya, tanpa ada perasaan yang bersalah. Seperti ingin menasehati)
Akhwat A   : TAHU APA ANTI TENTANG ISTIQOMAH DAN IKHLAS??. (Ucapnya dengan keras. Setelah itu menutup telephon)

Baik. Sekarang siapa yang salah” ucapku. Sambil melihat satu persatu Al Ukh, Halaqoh Cyber Liqo’.

Mereka terlihat bingung. Sesekali ada yang mengatakan salah satu yang salah. Tetapi ada juga, yang menyalahkan kedua akhwat itu. Dengan alasan, akhwat satu yang menelphon tidak mempunyai kesabaran untuk menghadapi Akhwat yang ditelephon. Lalu akhwat yang ditelephon, tidak mempunyai rasa persaudaraan yang kuat kepada akhwat yang lainnya. Tetapi, lebih banyak yang diam. Tidak berkomentar, atau menungguku untuk lebih dalam menjelaskan persoalan ini.

“Iya! Dalam kasus tadi. Kita dapat mengambil sebuah ibroh atau hikmahnya. Memang, niat ikhlas itu sangat diharapkan untuk tidak keluar dari dalam niat kita. Tetapi, ada penyebab yang membuat niat ikhlas itu keluar. Yaitu, dengan cobaan seperti apa yang terjadi dalam kasus tadi! Seorang, yang sudah ikhlas dalam hatinya. Akhirnya ternodai oleh saudaranya sendiri! Ikhlas, bukan berarti tidak butuh bantuan. Ikhlas, bukan berarti bertindak sendirian. Dan seharusnya, untuk menjaga keikhlasan sesama saudara. Maka saudara yang lainnya, pun harus ikut menjaga niat keikhlasan dalam perjuangan saudaranya. Bukan malah, membiarkan saudaranya berjuang sendiri. Lalu dengan seenaknya, saudara yang lainnya mengatakan tentang keikhlasan. Keikhlasan tentang saudara yang lainnya. Ini berarti, menjadikan tumbal saudara kita sendiri!”
Aku sedikit menarik nafas, lalu menghembuskannya pelan. “Maka, untuk menjaga niat ikhlas kita. Seharusnya, sikap kita adalah tidak mementingkan hasil dari apa yang kita kerjakan. Cukuplah usaha yang kita jalankan, sesuai dengan apa yang memang seharusnya. Tidak usah begitu mengharapkan hasil yang sempurna. Tetapi, tetap ada hasilnya! Dan cukuplah Allah, yang memberikan hasil dari kita. Cukuplah kita, berikhtiar dengan usaha yang kita lakukan.”

“Iya, ana juga setuju kalau seperti itu Mbak!” Ucap Desti.

“Ana jadi lebih mengerti sekarang!” Sahut Anggi.

“Sama, ana juga!” Ucap Febri.

“Syukron Mbak! Ana jadi lebih tenang, dengan penjelasan yang Mbak Farah sampaikan!” Ucap Ine.

“Sama, ana juga!” Ucap beberapa teman-teman yang lain.

“Alhamdulillah. Kalau seperti ini kan, ana jadi agak lebih mudah menjelaskannya!” ucapku. Sambil bercanda.
…………………………………………………………………………………………………………………..

Seketika aku teringat dengan hadist pertama dalam kumpulan hadits arbain Imam Nawawi,

Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

Hm…. Niat dan keikhlasanku udah terjaga atau belum ya?
Trus dalam menjalankan perjuanganku selama ini, apakah aku sudah ikhlas? Atau terpaksa ya?? Waduh.. bahaya..
Nah.. satu lagi, apakah aku sudah menjaga niat keikhlasan dalam perjuangan saudaraku atau malah, membiarkan saudaraku berjuang sendiri???
Tanda Tanya besar untukku….hmmmm
Semoga saja aku dan saudara-saudaraku saling menjaga, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan, bukan malahsaling menyalahkan.
BECAUSE WE ARE MOSLEM BROTHERHOOD (bener gk ya tulisannya).
^%************************************%^