Tampilkan postingan dengan label Cerita Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 April 2011

Canda Ala Palestina

Canda 1:
Syaikh Abu Bakr Al 'Awawidah, tetua Rabithah 'Ulama Palestina yang mukim di Damaskus -beliau buta sebab disiksa Israel- berkisah:
 "Bakda agresi ke Gaza, Hamas membuat banyak program untuk menyantuni para janda syuhada'. Di antaranya adalah; jika ada yang bersedia menikahi janda syahid, akan diberikan tunjangan 2500 USD & fasilitas tempat tinggal. Mendengar itu, seorang suami di Kuwait bertanya, "Istriku, bagaimana pendapatmu tentang program Hamas itu? Bagus sekali bukan?" Sang istri mengangguk penuh semangat. "Betul sekali suamiku." Dengan mata berbinar si suami menyahut, "Jadi kamu mengizinkanku ikut program itu?" "Setuju!". AlhamduliLlah! "Tunggu sebentar suamiku!", potong sang isteri. "Maksudku; ikutlah berjihad, syahidlah engkau, agar aku jadi janda! "Maka aku akan ikut program itu; hingga insyaaLlah beroleh suami baru & 2500 USD!"

Canda 2:
 ketika Syaikh Abu Bakr dipenjara, beliau dihardik dalam ritual penyiksaan pagi. "Pilihanmu cuma 3", gertak si sipir. "Hentikan semua ini! Atau hukuman mati! Atau dibuang ke negeri jauh!" Sahut beliau, "AlhamduliLlah. Kata Ibnu Taimiyah, kalau dipenjara begini, rasanya rehat & nikmat berdua dengan Allah. Kalau dibuang, berarti saya tamasya ke banyak tempat. Dan kalau dibunuh, aku bertemu Allah yang memang itu tujuanku!" Mendengarnya, wajah si sipir memerah & tangannya menggebrak meja keras. "Kurang ajar! Di mana itu Ibn Taimiyah tinggal hah?! Kami pasti akan menangkapnya!", geram sipir Israel. "Di kuburan Damaskus!" 

Canda 3:
Untuk menghindari lamanya siksaan <sengatan listrik, pencabutan kuku, cambuk dll>, para pejuang Palestina biasanya izin shalat & memperlama shalatnya. Syaikh Abu Bakr berkata, "Aku mau shalat. Nanti kuceritakan sejarah hubungan di antara negeri kita & semua info yang pasti memuaskanmu!" Si sipir mengiyakan. Maka Syaikh-pun shalat dengan membaca Surat Al Baqarah dari awal sampai akhir. Begitu usai shalat, si sipir tersenyum meski gusar kelamaan menunggu, "OK, jadi kau mau bekerjasama Ayo ceritakan semua info yang tadi kau janjikan!" Jawab Syaikh; "Lha kan sudah, baru saja saya kisahkan lengkap sambil shalat!" "Apa maksudmu?", tanya sipir. "Oh", sahut Syaikh, "Jadi anda tadi tidak menyimak? Baik, akan saya ulangi shalat saya!"

Kamis, 21 April 2011

Malam yang Gelisah

Berikut adalah sebuah cerita tentang pengalaman Sa'ad ibn Abi Waqqash membersama Nabi SAW di suatu malam yang mencekam.
Suatu malam menjelang kedatangan pasukan Ahzab ke Madinah, demikian Sa'd ibn Abi Waqqash berkisah, keadaan demikian mencekam. (Gelisah) Sungguh tepat apa yang digambarkan Allah; tak tetap lagi penglihatan kami & hati serasa naik menyesak ke tenggorokan. (QS 33: 10).
Malam itu aku terbangun dan ingat akan RasuluLlah. Atas keinginan sendiri, aku beranjak, lalu berjaga di dekat kediaman beliau. Saat aku di sana, RasuluLlah bersabda dengan suara agak dikeraskan. "Adakah lelaki Shalih yang malam ini sudi menjaga kami?". Maka aku segera menjawab, "Labbaika Yaa RasulaLlah! Di sini Sa'd ibn Abi Waqqash berjaga untukmu!". Sesungguhnya yang paling kusukai dari sabda beliau adalah kata-kata "Lelaki Shalih", semoga itu menjadi doa bagi diriku. Beliau keluar menemuiku dengan senyum tulusnya. Setelah memberikan arahan & memesankan nasehat, beliau masuk kembali. Di larut itu, tiba-tiba kudengar bunyi keras menderu-deru dari ujung kota. Bergegas kunaiki kudaku dan kutuju arah asal suara. Aku memacu kudaku. Sampai di satu tempat gelap, dari arah berlawanan muncul bayangan penunggang kuda. Kusiapkan busur & panahku. Ketika mendekat, aku terkesiap. Ternyata dia RasuluLlah! Aku bertanya, "Dari mana engkau ya Nabi? Sungguh aku #gelisah atas deru tadi!" "Aku khawatir, pasukan musuh dalam jumlah besar datang untuk menyerang Madinah. Mohon pulanglah, dan izinkan aku memeriksanya." RasuluLlah tersenyum padaku dan bersabda, "Tenangkan dirimu hai Sa'd. Aku telah memeriksanya. Dan itu hanya suara angin gurun." Aku terperangah, takjub & malu. Aku, si peronda, telah didahului oleh Sang Nabi yang kujaga dalam memeriksa kemungkinan bahaya. Kisah Sa'd ini menjadi pembelajaran indah. Bahwa Sang Nabi meminta dijaga bukan karena manja atau suka dilayani pengikutnya. Kesiagaan & kegesitan beliau bahkan terbukti lebih tinggi daripada Sa'd yang meronda. Permintaan dijaga itu adalah pendidikan. Sungguh menakjubkan; pemimpin ini adalah pembawa kedamaian, tak cuma dalam kata. Tapi dengan tindakan yang didasari ketulusan. Tapi kasih sayang agung yang membuat seluruh hidupnya terabdi untuk melayani, tak menghalangi untuk tetap mendidik sahabatnya.
Demikian sekelumit kisah di hashtag. Moga mengilhamkan kita tuk menjadi pembawa damai di hati orang-orang yang kita pimpin. Amiin. 

Sumber : Twitter Salim A Fillah 

Jumat, 01 April 2011

Keledai yang terperosok

Pada suatu hari, keledai seorang petani terperosok ke dalam sumur. Hewan itu menjerit pilu selama berjam-jam, sementara sang petani mencoba memikirkan apa yang harus ia perbuat. Akhirnya, dia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan lagi pula sumur itu perlu ditimbun. Tak ada gunanya mengangkat si keledai.

Ia mengajak para tetangganya untuk datang dan membantunya. Mereka semua menambil sekop dan mulai memindahkan tanah ke dalam sumur itu.Pada awalnya, si keledai menyadari apa yang terjadi dan menangis meraung-raung. Kemudian, semua orang heran karena keledai itu diam.

Setelah beberapa sekopan tanah, sang petani akhirnya melihat ke bawah sumur dan heran atas apa yang dilihatnya. Setiap kali sekopan tanah jatuh di punggungnya, si keledai melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia mengibaskan tanah itu dan naik ke atasnya. Selama para tetangga petani menyekopkan tanah ke atas hewan itu, dia selalu mengibaskan dan naik diatasnya. Tak lama kemudian, semua orang takjub saat si keledai melangkah keluar dari tepi sumur dan berlari!